[Chapter] She’s A Bully! 2nd


Judul: She’s A Bully!

Author: Tisa Khansa

Main Cast(s):

– Super Junior Cho Kyuhyun

– Girls’ Generation Im Yoona

– Red Velvet Bae Irene

Other Cast(s):

– Girls’ Generation Tiffany Hwang

– f(x) Krystal Jung

– Red Velvet Son Wendy

Rating : PG – 13

Genre: romance, friendship, hardship

Length: Chaptered

NB: haiii kambek dengan sab chap2! langsung dibaca nyok☺️☺️🌙

~~~

Perkataan Kyuhyun membuat Irene tersipu, “Dan kau… malah tambah kutubuku!”

“Hei, Bae Irene!” 

Dari kejauhan, Yoona yang baru saja kembali dari kantin melihat sepasang sahabat lama melepas rindu itu. Ia tampak heran saat melihat tawa dan senyum Kyuhyun, jelas karena ia belum pernah melihat Kyuhyun tersenyum sejak sebulan yang lalu Kyuhyun pindah ke SMA Hyunji.

Dengan ini, secara resmi Yoona penasaran dengan Kyuhyun. “Aku yakin pernah mendengar namanya, aku bersumpah dulu aku pasti sempat mengenalnya.”

~~~

Yoona pergi dari tempat ia memperhatikan Kyuhyun dan Irene yang sekarang di mata Yoona menjadi gadis-entah-siapa-namanya-yang-adalah-teman-dari-si-kacamata. Yoona pergi ke perpustakaan untuk memakai komputer yang dicukupkan dengan fasilitas internet itu. Ia memang sengaja tidak memakai handphone-nya dan menghabiskan kuotanya, hitung-hitung hemat dan mengurangi beban ayahnya.

Di perpustakaan Yoona membuka seluruh akun sosial medianya, seperti Instagram, Twitter, FaceBook, WattPad, mencari keterkaitan dirinya dengan Cho Kyuhyun, namun nihil. Ia tidak pernah mem-follow ataupun berteman dengan seseorang bernama Cho Kyuhyun.

Yoona kemudian keluar dari perpustakaan dan bergegas menuju ruang kelasnya. Di sana ia mendapati Wendy menatap bingung ke arahnya. “Hei, Im Yoona! Kemana saja kau daritadi?”

“Kantin, memang kau pikir aku habis darimana?”

“Kantin,” sahut Wendy simpel, “dan perpustakaan.”

Yoona menatap Wendy agak terkejut, namun bukan suatu hal yang perlu dikejutkan berlebih, “Darimana kau tahu aku baru ke perpustakaan?”

“Bukankah jelas aku tahu karena anak-anak membicarakanmu? Sudah tahu kau selalu menjadi bahan pembicaraan terhangat Hyunji, malah aneh-aneh pergi ke perpustakaan.” ujar Wendy.

“Hei! Apa aku tidak boleh belajar dan pergi ke perpustakaan?” sahut Yoona.

“Kau? Seorang Im Yoona? Belajar di saat seperti ini? Wah, bahkan aku tidak melihatnya dalam dirimu.” jawab Wendy.

“Hei, kau pikir aku mendapat peringkat satu Hyunji dengan apa? Pergi ke dukun dan meminta dimantra setelah membayar sepuluh ribu won?”

~~~

Tiffany, Yoona, Krystal, dan Wendy tengah berjalan di koridor SMA Hyunji saat mereka melihat korban bully mereka, Cho Kyuhyun tengah bersusah payah membawa berbagai macam buku. Tiffany tersenyum jahil lalu mengajak ketiga sahabatnya mendekati Kyuhyun.

“Kutubuku! Kesulitan membawa buku-buku itu?” ucap Tiffany.

“Ya, sedikit…”

“Mau kami bantu?” tawar Wendy.

“Terima kasih, kalian sangat ba…”

BRAK

Krystal menepis buku-buku itu dari tangan Kyuhyun, membuat buku-buku tersebut jatuh. Kyuhyun langsung reflek duduk untuk membereskan buku-bukunya. Yoona dengan kasar kemudian menendang tubuh Kyuhyun hingga Kyuhyun tersungkur di lantai koridor SMA Hyunji.

Keempat diva tertawa kejam lalu berlalu pergi. Namun baru tiga ubin melangkah, Yoona terhenti. Ketiga sahabatnya yang sudah mendahuluinya agak jauh beberapa meter menyadari keabsenan si blonde.

“Hei, Im Yoona! Mau apa lagi kau di sana?” Pekikan Tiffany terdengar. Terlihat dari kejauhan, Tiffany, Krystal, dan Wendy tengah berdiri dan menolehkan kepala mereka ke belakang; ke arah Yoona.

“Kalian duluan saja! Aku masih punya urusan dengan bocah sialan ini.” Sahut Yoona yang mengundang tawa ketiga gadis lainnya.

Setelah Yoona yakin ketiga temannya itu telah pergi, ia langsung balik badan ke arah Kyuhyun dan mengulurkan tangan dinginnya ke arah lelaki yang tengah tersungkur di lantai koridor hall SMA Hyunji itu. “Berdiri.”

“Terim…”

“Tidak perlu berterima kasih!” Potong Yoona keras kemudian mengambilkan buku-buku Kyuhyun yang terjatuh. Ia segera menyerahkan buku-buku itu lalu langsung menyusul teman-temannya setelah mengibas rambut blonde-nya pelan.

Kyuhyun, yang sudah berdiri dan dengan tumpukan buku rapi tertata di tangannya, masih memperhatikan langkah Yoona dari belakang. Ia kemudian bergumam tanpa ia sadari. “Cantik.”

Pada awalnya Yoona juga heran mengapa ia bersikap baik pada Kyuhyun. Agak baik. Namun dipikir-pikir, ia jadi ingat alasannya.

Flashback

Yoona seperti biasa berjalan sendirian dari halte bus menuju rumahnya. Hari sudah menunjukkan pukul delapan malam, agak gelap baginya untuk pulang seorang diri, namun ia tidak begitu peduli.

Yoona kemudian melihat seorang anak gadis cilik menangis di tepi jalan. Hendak menghampiri gadis cilik itu, tapi seorang lelaki mendahuluinya. Dari belakang memperhatikan lelaki itu, Yoona merasa familiar.

“Hai, gadis cilik pemberani. Kenapa kau sendirian di jalan gelap ini?” tanya lelaki itu pada gadis cilik tadi dengan lembut.

“Aku… tersesat…” sahut gadis cilik itu.

“Ya ampun, kok bisa? Ayo berdiri, Oppa akan mengantarmu mencari orang tuamu.” lelaki itu tersenyum tulus sambil mengulurkan tangannya ke arah sang gadis cilik. Dari jarak sekitar tujuh meter, Yoona masih memperhatikan mereka.

Saat lelaki itu menggandeng tangan gadis cilik yang tampak mempercayainya lewatlah sebuah mobil yang dengan cahaya lampu depannya membantu Yoona dapat melihat wajah lelaki itu sekilas. Dan tampaklah di sana, dengan jelas ia melihat wajah Cho Kyuhyun, si kutubuku yang selalu ia bully di sekolah.

Kyuhyun dan gadis cilik itu melenggang pergi, yang Yoona yakini pergi ke kantor polisi. Sebersit niatan Yoona ingin membuntuti mereka; membuntuti Kyuhyun; namun ia urungkan. 

Senyuman tipis muncul di bibir Yoona saat ia berkata di alam bawah sadarnya, “Anak baru itu sebenarnya anak yang baik.”

Flashback ends

Sejak beberapa malam yang lalu Yoona memergoki Kyuhyun tengah membantu seorang gadis cilik bahkan mengantarkannya ke kantor polisi, sedikit banyak pemikiran kasar Yoona terhadap Kyuhyun goyah. Siapa yang tidak luluh jika melihat lelaki bersikap seperti itu pada gadis cilik yang ia tidak sengaja temui di malam hari?

Yoona berhasil menyusul Tiffany, Krystal, dan Wendy. Keempatnya berjalan menuju kantin dengan dipenuhi obrolan-obrolan seru seperti biasa.

Di kantin, Krystal dan Wendy memesan minuman mereka terlebih dahulu sebelum pamit ke toilet. Tinggalah Yoona dan Tiffany berdua. Yoona memesan americano, sementara Tiffany yang keukeuh dengan kecintaannya pada pink memesan milkshake stroberi.

Tak begitu lama menunggu di sebuah meja, mungkin sekitar tujuh menit, pesanan keempatnya datang, walau Krystal dan Wendy masih berada di toilet.

Tiffany berkali-kali melirik ke arah Yoona, seperti hendak mengatakan sesuatu padanya, tapi berkali-kali itu pula ia urungkan. Dua menit berlalu dalam diam dengan Yoona sibuk dengan handphone-nya juga Tiffany yang bimbang ingin bertanya pada Yoona atau tidak. Tapi akhirnya Tiffany yang benci kesenyapan memutuskan untuk bertanya pada Yoona.

“Im Yoona.” Panggil Tiffany pada gadis blonde yang tengah duduk di hadapannya di kantin SMA Hyunji, menunggu Krystal dan Wendy untuk kembali dari toilet.

“Apa?” Sahut Yoona, masih sibuk dengan handphone-nya sendiri, sambil sesekali menyeruput americano dinginnya.

“Kau mengenalnya?”

Alis Yoona terangkat. “Siapa?”

“Cho Kyuhyun.”

Yoona tersedak, “Hei, apakah itu sebuah pertanyaan? Apakah aku harus mengenalnya?”

Sahutan dari sang posisi nomor satu keempat diva itu membuat Tiffany tergelak. “YA? Kenapa goofy sekali? Aku bertanya karena kau terlihat seperti mengenalnya.”

“Kau pasti bercanda.”

Sebenarnya kau benar, Tiffany. Aku juga merasa seperti mengenalnya.

~~~

“Untuk projek karya tulis kali ini, kalian akan berbentuk kelompok berpasangan. Maka dari itu saya akan membacakan daftar pasangan-pasangannya.” ujar Song-seonsaengnim. “Yang pertama, Cho Kyuhyun dan Im Yoona.”

Kedua pemuda-pemudi itu tampak terkejut. Walau pun dengan Yoona yang terang-terangan menolak dengan hebohnya dan dengan Kyuhyun yang hanya membelalakkan matanya, keduanya tampak sangat terkejut.

Pasangan pertama itu mengundang tawa Wendy. Yoona kemudian melirik ke arah Wendy dengan tatapan kau-mati-jika-membocorkan-hal-ini-pada-Tiffany-dan-Krystal, membuat Wendy semakin terpingkal.

It’s a bad luck. Don’t you think so, Yoong?” Ucap Wendy di sela-sela tawanya.

Namun sebenarnya, jauh di lubuk hatinya, Yoona tidak begitu berpikir bahwa ini nasib buruknya. Setidaknya ia jadi punya banyak kesempatan untuk menyelidiki siapa Cho Kyuhyun sebenarnya, walau harga dirinya membuatnya bersikap seperti ia sangat membenci Kyuhyun.

~~~

Hari ini Minggu pagi. Di akhir pekan seperti ini, Yoona memutuskan untuk bermalas-malasan sebentar. Mumpung masih belum muncul matahari, katanya beralasan pada ayahnya.

“Yoona, pergilah olahraga. Minggu pagi yang cerah seperti ini, tidak baik jika hanya dihabiskan dengan bermalas-malasan.” seru ayah Yoona dari lantai dasar rumahnya.

“Aku tidak percaya tahayul, Appa.” sahut Yoona.

Appa juga, asal kau tahu. Yang Appa maksud dengan tidak baik adalah karena bermalas-malasan bisa mempercepat penuaan. Kau tidak mau wajah cantik dan mulusmu itu menjadi berkeriput, kan?”

Ternyata cara ayah Yoona ini ampuh karena tidak lama Yoona sudah lengkap dengan training suit serta celana training favoritnya menyapa selamat pagi pada ayahnya yang tengah membaca koran sambil minum kopi.

“Seperti itu dong, putri cantik kok bermalas-malasan.”

Yoona keluar dari dalam rumahnya, bersiap untuk jogging. Ia benar-benar malas keluar rumah, apalagi jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Namun ia tidak mau kulitnya berkeriput, jadi ia turuti saja perintah sang ayah.

Berselang sepuluh menit, dari sebelah rumah Yoona persis, nampak seorang lelaki kacamata yang sepertinya juga bersituasi sama dengan Yoona. Lelaki itu jogging malas-malasan ke arah yang sama dengan Yoona. Dilihat dari deskripsi kacamata, ia memang adalah Cho Kyuhyun.

Yoona jogging sekitar empat puluh meter di depan Kyuhyun, jelas keduanya tidak menyadari kehadiran masing-masing.

“Aish, benar-benar… Ini hari Minggu, apa maksud Doha-ahjussi menyuruhku olahraga? Ia sendiri tahu aku benci olahraga.” gerutu Kyuhyun.

“Apakah appa menyayangiku? Bisa-bisanya dia membuatku keluar rumah dalih-dalih mengatakan aku bisa keriput. Aku bahkan belum berumur delapan belas!” gerutu Yoona.

Yoona memperlambat jogging-nya menjadi jalan ekstra-lambat sementara Kyuhyun masih di kecepatan yang sama sejak memulai jogging-nya tadi. Akhirnya Kyuhyun menyusul Yoona, ia sadar gadis yang berada lima meter di depannya adalah gadis yang selalu berlaku aneh di sekolah. Jika bertemu dirinya, gadis itu pasti mem-bully-nya, tapi sesaat kemudian membantunya.

Sambil mengingat-ingat nama gadis itu, Kyuhyun tidak sadar bahwa kecepatan jogging-nya meningkat. Tanpa ia sadari, ia menubruk Yoona. Di saat itu pula, nama ‘Im Yoona’ muncul di kepalanya.

BRAK

“Aish…” gerutu Yoona.

“Maaf, maafkan aku…” ucap Kyuhyun sambil berkali-kali membungkuk.

“Bisakah kau lebih berhati-hati!?” pekik Yoona sebelum ia mendongakkan kepalanya dan mendapati seseorang yang menabraknya adalah si korban bully. “Cho… Kyu… Hyun…?”

“Maafkan aku, Yoona-ssi, aku tidak bermaksud untuk menabrakmu…” ujar Kyuhyun.

Yoona mengibas rambutnya sebeluh melirik sana-sini was-was. “Kau tinggal di sekitar sini?”

Kyuhyun mengangguk sambil melanjutkan jalannya mengikuti langkah Yoona, “Di ujung jalan, rumah nomor C1.”

Yoona agak terkejut. Rumahnya adalah nomor C2, berarti rumah keduanya berada tepat bersebelahan.

“Oh ya, Yoona-ssi. Untuk projek karya tulisnya…” ucapan Kyuhyun terpotong.

“Jangan bicarakan sekarang, nanti saja. Aku tidak suka membicarakan tugas di Minggu pagi.” sahut Yoona cepat.

“Oh, baiklah.” sahut Kyuhyun.

Keduanya masih jalan berdampingan, tapi tidak satu pun di antara mereka berbicara sepatah kata. Baik Kyuhyun mau pun Yoona, tidak ada niatan untuk jogging meninggalkan orang di samping mereka.

~~~

“Im… Yoona…?” gumam Kyuhyun. “Aku seperti pernah mengenalnya.”

Kyuhyun tengah menunggu Irene di cafe dengan kemeja kotak-kotak yang dimasukkan ke dalam celananya dan kacamata yang setia menempel di matanya. Jika keempat diva melihat dandanan Kyuhyun, ia pasti akan menjadi bulan-bulanan mereka lagi.

“Sudah lama menunggu?” sapa seorang gadis cantik yang terlihat sangat outgoing. Dialah Bae Irene.

Kyuhyun menggeleng. “Belum.”

“Oh ya, ada apa kau mengajakku bertemu di sini?” tanya Irene langsung to the point setelah memesan dua frappuchinokarena ia tahu persis Kyuhyun pasti belum memesan.

“Itu, aku hanya ingin bertanya.” hendak mengucap nama Yoona untuk bertanya apakah Yoona adalah kenalan Irene atau keduanya saat masih belia, tetapi ia urungkan. “Kelasmu sudah memulai projek karya tulis kan, minggu lalu?”

Irene mengangguk. “Ada apa memangnya?”

“Apa topik yang kau jadikan materi penelitian?” tanya Kyuhyun.

“Aku?” Irene menyeruput frappuchino-nya yang sudah datang.

“Mengenai kesehatan. Manfaat teh hijau pada kesehatan manusia.”

“Sudah pasti dari seorang Bae Irene yang bercita-cita menjadi pakar kesehatan.” timpal Kyuhyun sambil tersenyum.

“Kau masih ingat cita-cita masa kecilku?” sahut Irene kemudian tertawa kecil. “Bagaimana kau masih ingat?”

“Entah, hukum alam menyatakan aku mengingatnya.” jawab Kyuhyun santai.

Flashback

“Kyuhyun-ah, kau tidak apa-apa?” pekik Irene yang berlari menghampiri Kyuhyun masuk ke dalam ruang rawat inap si bocah lelaki.

“Tentu, bukan masalah besar.” sahut Kyuhyun.

“Bukan masalah besar darimana? Kau tertabrak motor! Sebelah mana yang sakit, Kyu?” tanya Irene kecil khawatir.

“Hanya sedikit sakit di kakiku…” Kyuhyun memperlihatkan kakinya yang diperban.

“Aih Cho Kyuhyun…” gumam Irene kemudian mengelus rambut Kyuhyun lembut.

“Aku benar-benar tidak apa…”

“Kau tenang saja, nanti saat sudah dewasa, aku akan masuk Fakultas Kedokteran Universitas Seoul lalu menjadi pakar kesehatan agar aku bisa membuat obat-obat yang akan menyembuhkan rasa sakit dalam sekejap mata!”

Flashback ends

Irene tertawa mendengar perkataan Kyuhyun kemudian merubah topik, “Hari Minggu seperti ini, apa kau tidak jalan-jalan?”

“Aku bosan di rumah, tapi eomma ada acara di kantor appa.” sahut Kyuhyun.

Eommoni dan aboji masih sama sibuknya seperti dulu?” ucap Irene, agak prihatin juga.

“Ya, kapan juga mereka pernah tidak sibuk?” jawab Kyuhyun seraya tersenyum.

“Bagaimana jika kita jalan? Nonton film?” usul Irene, mengubah topik.

Kyuhyun menggeleng dengan tatapan tidak enak, “Maafkan aku, aku harus memulai pengerjaan karya tulisku hari ini.”

“Ah benarkah? Siapa partner-mu?” tanya Irene.

“Im Yoona.” jawab Kyuhyun yang membuat Irene agak terperanjat.

Tapi berusaha untuk tidak memperlihatkan keterkejutannya, Irene menyahut. “Oh ya? Dia siswi terpintar di Hyunji, beruntungnya kau.”

~~~

Yoona masih memperhatikan nomor telepon Kyuhyun yang ia dapatkan tadi pagi saat berpapasan dengan Kyuhyun.

Flashback

By the way, Cho Kyuhyun. Aku butuh nomor teleponmu, hari ini kita perlu menyusun kerangka karya tulis kita dan mencari materi yang tepat.” ucap Yoona.

“Oh baiklah.” sahut Kyuhyun kemudian mendiktekan nomor teleponnya.

Flashback ends

“Aish, kemana harga diriku jika aku menghubunginya duluan? Mana mungkin siswi terpintar dan paling terkenal di Hyunji menelepon seorang korban bully seperti Cho Kyuhyun?” gumam Yoona, mempertahankan harga dirinya. “Sudahlah, biar dia yang coba hubungi aku terlebih dahulu.”

Sementara itu di rumah Kyuhyun, keadaan juga tidak begitu berbeda.

“Apakah aku harus menghubunginya dahulu untuk bertanya mengenai projeknya? Bagaimana jika aku disemprotnya karena sembrono meneleponnya?” gumam Kyuhyun. “Tapi Im Yoona itu… tidak bersikap buruk jika sedang sendirian.”

“Kenapa gadis itu sering berganti sifat jika sedang berhadapan denganku? Padahal jika sedang bersama ketiga temannya, ia sangat menakutkan.” Kyuhyun lanjut bergumam. “Haruskah aku menghubunginya?”

Kyuhyun menekan tombol ‘call‘ bersamaan dengan Yoona. Itu membuat bunyi dering sedang ‘sibuk’ dari kedua handphone berbunyi, padahal Kyuhyun menelepon Yoona dan sebaliknya.

Kali ini Yoona memutuskan untuk menunggu sementara Kyuhyun memutuskan untuk mencoba menelepon lagi. Nada dering Yoona pun berbunyi.

KLIK

“Ya?” sapa Yoona

“Bagaimana dengan projeknya?” ucap Kyuhyun langsung pada poinnya.

“Kau sendiri? Sudah mulai mencari materi?” tanya Yoona balik.

“Belum.” jawab Kyuhyun seadanya. “Bagaimana jika kita mengerjakannya bersama?”

Yoona agak menimbang, takut jika ia janjian dengan Kyuhyun di cafe atau tempat publik lainnya, ada saja siswa SMA Hyunji yang menangkap kehadirannya bersama Kyuhyun. “Baiklah, tapi adakah tempat selain café atau tempat publik?”

“Ada apa memangnya?” tanya Kyuhyun.

“Tidak apa, hanya saja…” Yoona sibuk mencari alasan yang bagus, “jika di tempat publik, kita tidak bisa fokus karena terganggu ribut-ribut.”

Terdengar suara deheman setuju Kyuhyun dari ujung telepon. “Bagaimana… dengan rumahku?”

Yoona tersedak ludahnya sendiri. Dirinya? Ke rumah seorang kutubuku yang di-bully? Im Yoona? Wow, harga dirinya tidak mengizinkannya untuk melakukan itu. “Jangan, tidak pantas bagi seorang gadis untuk pergi ke rumah lelaki.”

Kyuhyun lagi-lagi terdengar membenarkan, “Aku ke rumahmu saja, bagaimana?”

Yoona agak menimbang-nimbang, “Baiklah. Datanglah nanti sore pukul tiga, rumah nomor C2, tepat sebelah rumahmu.”

“Rumahmu sebelah rumahku?” pekik Kyuhyun terkejut.

“Jangan berlebihan, hanya kebetulan yang baik. Kita jadi mudah komunikasi untuk projeknya.” jawab Yoona cepat.

Kyuhyun terkekeh, “Aku akan datang pukul tiga nanti, Yoona-ssi.”

“Baiklah.”

KLIK

Kyuhyun tersenyum tanpa ia sadari–sebuah aktifitas yang akhir-akhir ini ia jalani setelah berbicara mau pun melihat Yoona, “Cute.”

~~~

TING TONG

Jam menunjukkan pukul tiga tepat dan bel rumah Yoona berbunyi. Yoona tengah tidur di kamarnya di lantai atas dan tidak mendengar bunyi bel sama sekali, sehingga sang ayahlah yang membukakan pintu.

“Ah? Siapa ini?” sapa ayah Yoona ramah saat melihat Kyuhyun berdiri di depan pintu.

“Ah aku…” Teman? Tidak juga, Kyuhyun tidak merasa berteman dengan Yoona. “…partner tugas projek Yoona.”

“Benarkah? Ayo masuk!” ajak ayah Yoona. Setelah meminta Kyuhyun untuk duduk di sofa ruang tamu, ayah Yoona membuka bibirnya dan membuat Kyuhyun tergelak kecil, “Aish, anak itu malah tidur siang di saat seperti ini.”

“Oh ya, siapa namamu?” tanya ayah Yoona.

“Cho Kyuhyun, Ahjussi.”

“Cho Kyuhyun?” gumam ayah Yoona. Otaknya mencerna nama itu seperti hal yang pernah ia cerna sebelumnya, tapi tidak berhasil menemukan berkas file bernama Cho Kyuhyun di bagian manapun. “Oh, Kyuhyun. Panggilah Yoona, ia sedang tidur di kamarnya di lantai atas.”

“Bolehkah…?” tanya Kyuhyun ragu.

Ayah Yoona tersenyum manis membentuk eye-smile lucunya, “Tentu, cepatlah.”

Kyuhyun permisi kemudian menaiki tangga rumah Yoona. Di atas ia menemukan sebuah kamar dengan kamar mandi di sampingnya. Ia mengetuk pintu kamar tersebut yang ia yakini sebagai kamar Yoona.

TOK TOK TOK

“Yoona? Yoona-ssi, aku Kyuhyun.” ucap Kyuhyun sambil terus mengetok pintu.

Terdengar suara gedebuk dari dalam kamar Yoona, membuat Kyuhyun tertawa kecil. Ia menebak Yoona baru saja jatuh dari tempat tidurnya. Tak lama, pintu kamar terbuka.

KLEK

Appa, ada apa membang…” gerutu Yoona setengah sadar sambil mengucek matanya malas. Tapi saat ia membuka matanya lebar, ia sadar bukan sosok ayahnya yang ada di hadapannya.

Annyeong?” sapa Kyuhyun informal dan canggung.

BRAK

Yoona spontan membanting pintu dan kembali masuk ke dalam kamarnya.

“Im Yoona! Jangan banting pintunya, nanti rusak lagi!” pekik ayah Yoona dari lantai bawah.

Appa! Kenapa tidak kau saja yang membangunkanku!?” sahut Yoona tak kalah kencang. Kemudian suara Yoona terdengar dari dalam kamarnya berbicara pada Kyuhyun, “Kau turun duluan, Cho Kyuhyun. Aku menyusul.”

“Baiklah.” Kyuhyun turun dari lantai atas menuju ruang tamu lantai bawah, mendapati ayah Yoona sedang membawa baki berisi camilan dan minuman. “Tak perlu repot-repot, Ahjussi!” Kyuhyun menghampiri ayah Yoona kemudian mengambil alih baki tersebut.

“Terima kasih, Kyuhyun.” ucap ayah Yoona tulus. “Ah ya, sebentar lagi Yoona turun. Kau tunggu saja, ya.”

“Baiklah, Ahjussi.”

Tak lama Yoona turun dari lantai atas sudah beda penampilan dengan Yoona yang dilihat Kyuhyun tadi. Yoona yang kali ini adalah Yoona yang biasa Kyuhyun lihat di sekolah. Tadi Yoona mengenakan piyama biru muda lucu, kini dirinya sudah tampil chic seperti biasa dengan kaos putih polos lengan panjang serta hotpants hitam.

Yoona kemudian duduk berjarak dengan Kyuhyun. “Bagaimana? Sudah muncul dengan ide untuk topiknya?”

Kyuhyun mengangguk. “Ideku untuk topiknya yaitu topik mengenai sosial. Keadaan sosial warga Korea Selatan di masa remajanya.”

Yoona tersenyum, “Ide yang bagus. Keadaan sosial remaja Korea memang cukup menjadi sorotan hangat.”

“Memang, maka dari itu aku memutuskan untuk mengambil topik ini.”

“Lalu? Apakah kau sudah menentukan bahan penelitiannya?” tanya Yoona sambil membolak-balik lembaran kerangka karya tulis yang dibuat Kyuhyun.

“Belum, kau ada ide?” tanya Kyuhyun balik.

“Sebenarnya ada, tapi aku tidak begitu yakin.” sahut Yoona.

“Sebutkan idemu, tidak peduli seburuk apapun ide itu, kita harus mendengarnya.” timpal Kyuhyun.

Yoona mengangguk mendengar perkataan Kyuhyun, “Aku berniat untuk meneliti dua orang dengan tujuan membandingkan keadaan sosial mereka. Seperti tingkat kebahagiaan serta penyebab-penyebab keadaan sosial mereka saat ini.”

“Idemu tidak buruk.” ucap Kyuhyun. Ia kemudian mengambil lembaran kerangka yang ada di tangan Yoona dan menuliskan ide Yoona barusan. “Membandingkan keadaan sosial dua orang melalui penelitian.”

“Apakah itu saja penelitian yang akan kita lakukan?” tanya Yoona.

“Sepertinya cukup satu saja, kita bisa fokus pada bahan ini.” jawab Kyuhyun.

~~~

“Im Yoona, bagaimana denganmu dan si kutubuku itu? Kata Wendy kau dan dia dipasangkan untuk projek karya tulis?” Goda Tiffany.

Yoona yang mendengar perkataan Tiffany langsung menatap ke arah Wendy dengan tatapan membunuh. “Sialan kau Son Wendy.”

“Yaaa, Tiffany dan Krystal juga perlu tahu apa-apa yang terjadi di kelas kita, ok?” tawar Wendy.

“Bagaimana dengan kau dan si kutubuku itu, Yoona?” tanya Krystal kali ini.

Mendengar tidak adanya nada menggoda dari kalimat Krystal dan apa yang diungkapkan Krystal terdengar murni penasaran, Yoona menjawab, “Biasa saja. Kami sudah mulai membuat kerangka karya tulis, dan ya itu saja.”

“Tidak sulit bekerja dengannya?” tanya Wendy, terdengar meremehkan Kyuhyun.

Yoona tidak begitu suka mendengar kalimat Wendy yang tampak meremehkan partner-nya, “Biasa saja.”

“Aku pernah dengar, katanya si Cho Kyuhyun itu peringkat satu di sekolah asalnya dulu.” tambah Krystal.

“Wah, wah, pasangan cerdas, hm?” goda Tiffany diselingi senyuman menggoda dan gerakan atas-bawah alis Wendy.

“Kalian berdua,” ujar Yoona sambil mengarahkan tatapannya ke arah Tiffany dan Wendy, “akan kuperhitungkan.” Yoona pun berlalu masuk ke ruang kelas X-9, tidak mempedulikan para sahabatnya.

“Sensitif sekali kau!”

“Huu, dasar tidak seru!”

Sementara itu, Krystal yang hanya menjadi penonton netral sejak tadi hanya dapat menggelengkan kepalanya maklum. Sudah terlalu biasa baginya menjadi bagian yang tidak berpihak pada siapa pun di saat seperti ini.

Yoona langsung duduk di kursi biasanya sebelum Wendy menyusulnya dan duduk di sebelahnya. Mereka mengobrol seperti biasa seperti tidak terjadi apa pun di koridor tadi bersama Tiffany dan Krystal.

Selang lima menit, Han-seonsaengnim datang untuk jam pertama X-9 hari itu.

“Sebelum memulai jam pertama hari ini, saya akan menentukan tempat duduk kalian karena kalian tampak sudah tak terkontrol jika sedang ada kelas.” ujar Han-seonsaengnim yang sontak mendapat sorakan dari seluruh siswa X-9. “Jangan berisik, ayo duduk sesuai kelompok karya tulis Song-seonsaengnim saja biar mudah.

Ucapan Han-seonsaengnim reflek membuat Wendy menoleh ke arah Yoona. Gadis itu pun tergelak, membuat tatapan maut Yoona kembali tertuju padanya. “Diam kau, Son Wendy.”

Yoona merapikan bukunya dan bergegas menuju meja paling ujung kanan depan, tempat kelompok nomor satu karya tulis; dirinya dan Kyuhyun; harus duduk bersama. Yoona langsung duduk, mengacuhkan Kyuhyun yang hendak menyapanya.

Gadis ini memang berbeda dengan saat hanya berdua denganku, gumaman nurani Kyuhyun terdengar agak kecewa.

~~~

Epilogue

Tiffany sedang berada di perpustakaan, sekali-kali mengumpat wali kelasnya Park-seonsaengnim karena telah menyuruhnya membantu guru perpustakaan Choi-seonsaengnim membereskan perpustakaan di saat jam istirahat seperti ini.

Saat tengah berada di rak paling ujung ruangan, ia mendengar pintu perpustakaan dibuka secara cepat. Terdengar seperti orang yang buru-buru pergi ke perpustakaan untuk mencari sesuatu di telinga Tiffany. Ia segera menolehkan kepalanya melihat siapa yang masuk ke dalam perpustakaan.

“Yoona?” gumam Tiffany. Ia kemudian hendak menghampiri Yoona untuk mengolok-oloknya tentang kedatangannya ke perpustakaan, tapi ia urungkan saat melihat Yoona buru-buru duduk di depan komputer membuka beberapa tab di internet untuk mengakses seluruh akun sosial medianya.

Tiffany mengendap-endap ke arah Yoona, perlahan agar Yoona tidak sadar. Ia melihat sesuatu yang ganjil yang diketik Yoona di kolom pencarian setiap sosial media.

“Cho… Kyu… Hyun…?” ucap Tiffany saat melihat nama itu diketik Yoona di kolom pencarian. “Cho Kyuhyun? Si kacamata dari X-9, kan? Untuk apa Yoona mencari namanya?”

Keesokkan harinya ketika tengah berjalan bertiga dengan Wendy dan Krystal karena Yoona katanya sedang ada urusan dengan Kyunyun, Tiffany kembali memutar otaknya. Urusan apa yang dimaksud Yoona? Apa hanya memberi bocah itu pelajaran seperti yang diartikan Krystal dan Wendy?

Tiffany berusaha untuk tidak begitu memikirkannya. Sesaat kemudian, Yoona sudah bergabung dengan ketiga diva.

Keempatnya kembali berbincang seperti biasa, tapi Tiffany tidak mendapat aura orang yang baru saja mem-bully orang lain dari hawa Yoona. Tiffany memang cukup cakap menangkap aura orang, tidak mengherankan dari seseorang yang adalah peringkat empat di SMA Hyunji. Si blonde ini tidak baru saja kembali dari mem-bully, entah apa, tapi bukan mem-bully.

Dengan ini Tiffany jadi menimbang benar-benar, apa Yoona pernah mengenal Kyuhyun? Atau, apa Yoona memang mengenal Kyuhyun?

.

.

.

.

.

.
TO BE CONTINUED

hayooo chapter2 is coming to the house epribadehhhhh *berasa ke dwp* *padahal tinggal di jkt aja udah kaga* *malah jadi pengen ke dwp* *tapi takut iman jebol* *kry phonograph aja gue gaboleh* *mentang-mentang gue dateng ss6ina* *jadi gaboleh nonton kry phonograph* < btw ini ditulis emang sebelum taun baru

jiah. gimana chap2nya? kurang panjang? awas aja kalo ada yang bilang kurang panjang karena gue sebenernya males review jadi gatau ini pas panjangnya atau kaga :v

syudah yha, ditunggu chapter3nya ya syg-sygku💞 #jombzlife

Advertisements

14 thoughts on “[Chapter] She’s A Bully! 2nd

  1. makin seru! bikin penasaran sebenernya pernah ada apa di antara yoona sama kyuhyun pokoknya can’t wait to read the next chapter. anyway, di sini ada penggunaan kata serapan yang salah, contohnya projek yang harusnya proyek (hitung-hitung sambil belajar latihan mau un :’D). ssst masih kecil malah pengen dwp :p pokoknya ditunggu banget deh kelanjutannya

  2. ekekeke, ini udah cukup panjang kok :v keren juga. kyuna kayaknya sebelumnya udh pd kenal, tp kenapa pada gak ingat dan cuma si irene aja yg sepertinya ingat? ah, kyuhyun deket sama si irene ya disini. gak rela sih~ jangan sampe ya ada perasaan? no.no.no~!!! itu tidak boleh -_- hahaha. ditunggu chap3nya, oke?

  3. Oenni makasih banyak udah dilanjut
    Huwaaa
    Jadi penasarannn
    Jangan2 KyuNa emang sebenarnya saling kenal sebelumnya tapi entah karena hal apa mereka jadi lupa
    Hemh
    Tapi ayahnya Yoong oenni ga inget
    Jadi bener2 penasaran

  4. Sepertinya yoona sma kyuhyun pernah berteman waktu masa kecil. Irene aja keliatanya kenal tp gak blg sama kyuhyun. Dan diliat dr appa yoona jg sepertinya kenal.

  5. ap kyu irene n yoona waktu kcl slng knl??kyu udah mulai trtarik ma yoona ya??q harap yoona n temen2 nya gak bkln brntm….yoona n ayahnya klo drmh lcu bgt tp dmn ibu yoona

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s