[Chapter] She’s A Bully! 4A


img_3083

[Chapter] She’s A Bully! <4th> || 4A

Judul: She’s A Bully!

Author: Tisa Khansa

Main Cast(s):
– Super Junior Cho Kyuhyun
– Girls’ Generation Im Yoona
– Red Velvet Bae Irene

Other Cast(s):
– Girls’ Generation Tiffany Hwang
– f(x) Krystal Jung
– Red Velvet Son Wendy

Rating : PG – 13

Genre: romance, friendship, hardship

Length: Chaptered

NB: hola semuanyaaa~ kambek dengan sab chap 4 (a)!💙 gimana menurut lu pada ff yang ini? youre mine belum kelar, tapi ide buat sab ngalir terus, anddddd mood nya emang cuma ke sab doang. jadi menurut gue sih, brokside gue berhentiin aja. baru wacana tapi yeah emang sumpah pasti semua juga udah lupa sama brokside. yha kan? jiahah, gue juga udah lupa :’> fvslove apalagi, clueless dude juga gila aja ilang ide blas.

kalo youre mine, wong e& gue aja udah lupa blas sama trik-trik yang gue buat di chap 1. di youre mine gue cuma inget plot utamanya. tok. itu doang. jiahah.

lah nb gue kali ini sampe 2 paragraf e&. yasyudahlah yha, langsung dibaca ae sab nya ~

~~~

“Cho Kyuhyun.” panggil Yoona.

“Ya?” Belum Kyuhyun menolehkan kepalanya ke arah Yoona, sebuah tangan terulur ke arahnya.

“Aku bukan tipe orang yang suka berpanjang lebar, apa menurutmu kita bisa lupakan seluruh kejadian buruk di pertemuan awal kita dulu dan memulai lembar yang baru? Sebagai teman sekelas?” ujar Yoona.

Kyuhyun tertegun. Ia melihat sinar ketulusan dari kedua bola mata gadis cantik ini.

Tangan lembut Yoona akhirnya dibalas sebuah genggaman dari tangan Kyuhyun. “Tentu. Sampaikan maafku pada temanmu yang terkena kopi itu, ya?”

~~~

By the way, dimana kacamatamu?” tanya Yoona sambil mulai menyantap masakan yang baru ia pesan.

Kyuhyun dan Yoona masih berada di cafe, tapi sudah tidak mengerjakan tugas projek. Keduanya hanya sedang menyantap makan malam.

“Jatuh,” sahut Kyuhyun seadanya. “Aku menabrak pilar di depan gedung teater.”

Yoona tersedak dan langsung tertawa. Tapi sadar ia baru saja tertawa di hadapan teman barunya, ia langsung menampakkan wajah normalnya. “Menggelikan.”

Kyuhyun tergelak melihat gelagat Yoona yang terlihat terbatasi. “Kau tidak perlu memasang topeng dinginmu itu saat bersamaku, hm?”

Kyuhyun dan Yoona berjalan menuju halte bus, sudah kelar makan malam. Keduanya duduk di kursi panjang, menunggu bus arah komplek mereka.

“Kau…” panggil Yoona yang sontak membuat Kyuhyun menoleh. “Bukankah kau anak orang kaya?”

Kyuhyun tersenyum kecil. “Lalu? Apakah anak orang kaya tidak boleh pulang sekolah seperti anak SMA pada umumnya?”

“Tidak, maksudku… Saat aku melihat rumahmu, kau benar-benar terlihat seperti orang kaya. Pasti jauh di atas kekayaan ayahku.” ucap Yoona. Entah harus dianggap memuji Kyuhyun atau menyombongkan dirinya sendiri, demi ddangkoma tidak ada yang tahu.

“Keluargaku suka berlebihan dalam mengumbar kekayaan, aku lebih memilih untuk menjadi seperti ini.” sahut Kyuhyun seadanya. “Kau sendiri? Dilihat dari rumahmu yang berada di kompleks seperti itu, kau juga terlihat seperti orang kaya.”

“Ya, ya. Kata orang, aku memang orang kaya.” jawab Yoona jujur. Yoona kemudian menyeringai lembut, “Tapi aku lebih bahagia hidup seperti ini. Tanpa pelayan, tanpa mobil mewah.”

Kyuhyun mengangguk setuju, “Kebahagiaan memang di atas segalanya.”

Bus yang ditunggu-tunggu datang. Kyuhyun dan Yoona masuk dan mengambil kursi paling depan, agar mudah keluar.

Yoona melirik ke arah handphone-nya, jam menunjukkan pukul sembilan malam. Kyuhyun ikut melirik ke arah jam digital yang terpampang di layar handphone Yoona. “Sudah malam, hm?”

“Ya, tapi tak apa. Lagipula appa sedang pergi.” sahut Yoona.

“Kau sendirian di rumah?” tanya Kyuhyun.

“Ya, begitulah. Sudah biasa, ia rutin pergi setelah dua minggu tinggal di rumah.” jelas Yoona.

“Pekerja minyak?” tanya Kyuhyun yang mendapat anggukan simpel dari Yoona.

“Hanya salah satu pegawai di perus…”

“Direkturnya, ya?” potong Kyuhyun.

“Tidak berguna juga aku berbohong ternyata.” timpal Yoona.

“Perusahaan minyak, hm?” gumam Kyuhyun. “ICJ Corporation?”

Yoona membelalak, tetapi berusaha untuk tidak memperlihatkannya, “Memang, ICJ Corp. Kau tahu dari…?”

“Ayahku memasang saham di perusahaan ayahmu.” jelas Kyuhyun. “Ia memegang sepuluh persen saham ICJ.”

“Kebetulan sekali, ya.” timpal Yoona. “Ayahmu pemilik perusahaan juga kan?”

Kyuhyun mengangguk, “Begitulah.”

“Apa nama perusahaan ayahmu?” Tanya Yoona.

“C Entertainment.”

“Apa!? Agensinya Wendy?”

Kyuhyun mengangguk. “Ya, gadis itu sangat berbakat. Aku pernah melihatnya saat latihan.”

Yoona mengangguk-angguk. “Pantas, C untuk Cho.”

Bus sampai di halte depan komplek elit tempat Kyuhyun dan Yoona sama-sama tinggal. Keduanya turun dan jalan berdampingan menuju blok C.

“Jangan beritahu Son Wendy, omong-omong.” ucap Kyuhyun membuka topik saat keduanya tengah berjalan.

“Tentang?”

“Ayahku adalah pemilik C Entertainment. Aku tidak mau ia bersikap baik padaku hanya untuk memanfaatkanku sebagai anak dari pemilik agensi.” jelas Kyuhyun jujur.

Yoona tertawa pelan. “Tentu, kau harus berusaha sendiri agar teman-temanku dapat menjadi temanmu juga.”

Keduanya sampai di rumah Yoona terlebih dahulu. Yoona berbalik menatap Kyuhyun. “Aku duluan.”

“Ya, selamat malam.” ucap Kyuhyun.

Yoona berjalan masuk ke pekarangan rumahnya. Mungkin tidak semewah rumah Kyuhyun yang memiliki pagar tinggi; rumahnya bahkan tidak memiliki pagar beroda. Tapi rumahnya yang cukup besar dapat meyakinkan orang-orang bahwa pemilik rumah C2 ini adalah orang berada.

“Yoona.” panggil Kyuhyun.

Yoona terhenti lalu berbalik. “Apa?”

Kyuhyun melempar senyum indahnya, “Aku akan bersikap layaknya teman bagimu mulai sekarang.”

Tanpa Kyuhyun dan Yoona sadari, Yoona ikut tersenyum–walau sangat tipis dan tertutup gulitanya malam, “Ya, baiklah.”

Yoona berbalik dan masuk ke dalam rumahnya setelah membuka kunci pintu. Kyuhyun pergi saat mendengar pintu rumah Yoona dikunci dari dalam dan melihat lampu rumah C2 menyala.

Ia masuk ke pekarangan rumahnya setelah penjaga pintu membukakan pagar pintu rumahnya. Ia langsung masuk ke gedung rumahnya.

“Tuan Mud…”

“Kyuhyun, Ahjussi.” potong Kyuhyun

“Kyuhyun,” ralat Kepala Pelayan Lee Doha–yang lebih terlihat seperti pelayan pribadi Kyuhyun, “Kenapa pulang begitu malam?”

Kyuhyun tersenyum manis, “Mengerjakan tugas bersama seorang teman, Ahjussi.”

Lee Doha mengangguk mengerti. “Apa kau sudah makan malam?”

“Sudah.” jawab Kyuhyun. “Dimana appa dan eomma?”

“Tuan Cho sedang ada seminar di Shanghai sementara Nyonya Cho ada acara amal di Mokpo.” jelas Lee Doha.

“Oh, baiklah.” sahut Kyuhyun seadanya. “Tolong beritahu Soorim-ahjumma untuk segera pergi ke kamarku, ya.”

“Baiklah, Kyuhyun.” ucap Lee Doha. Kyuhyun yang mendengar kepala pelayan di rumahnya itu memanggilnya secara normal tersenyum bangga.

Kyuhyun pergi ke lantai dua rumahnya dan segera masuk ke kamarnya. Di kamarnya yang ekstra-luas, Kyuhyun sudah melihat Song Soorim, pelayan pribadinya yang berumur empat puluh tahunan.

“Ada apa, Kyuhyun?” sapa Song Soorim dengan senyum tulus.

“Siapkan barang-barang ini, aku ada darmawisata besok sampai hari Sabtu.” jelas Kyuhyun kemudian memberikan catatan kecil berisi barang-barang yang perlu dibawa yang dituliskan di website SMA Hyunji.

“Baiklah.” jawab Song Soorim kemudian langsung pergi bergegas menyiapkan barang-barang yang dibutuhkan Kyuhyun.

Kyuhyun melepaskan seragam sekolahnya sebelum masuk ke kamar mandi yang ada di kamar tidurnya untuk membersihkan tubuhnya. Tak lama ia keluar sudah terlihat segar dengan celana pendek kotak-kotak selutut dan kaos putih polos berlengan pendek.

Kyuhyun merebahkan dirinya di atas tempat tidur setelah menekan tombol untuk mematikan lampu di remote khususnya.

Gadis ini tersenyum lembut, senyuman yang belum pernah kulihat sebelumnya, “Tapi aku lebih bahagia hidup seperti ini. Tanpa pelayan, tanpa mobil mewah.”

“Gadis itu melengkungkan bibir tipisnya tulus dan mengatakan hal yang kemudian tertancap pas di hatiku.” Kyuhyun bergumam sebelum pergi ke alam mimpi.

“Dan senyumannya saat itu… benar-benar manis.”

~~~

Kyuhyun keluar dari rumahnya dengan sebuah tas di punggung serta satu koper biru berukuran sedang ia tenteng di tangan kirinya.

“Aku menawarkan untuk yang terakhir kali, Tu…”

“Kyuhyun.”

“.., Kyuhyun. Apa kau benar-benar tidak ingin diantar oleh Gyeonghwan?” Tawar Lee Doha. Kim Gyeonghwan, supir pribadi Kyuhyun yang akhir-akhir ini alih profesi sebagai penggoda pelayan wanita rumah keluarga Cho karena Kyuhyun jarang menggunakan jasa supirnya.

Kyuhyun menggeleng, “Tidak perlu. Ahjussi tahu aku lebih suka pergi ke sekolah sendirian.”

“Tapi kali ini kau kan membawa koper…” timpal Lee Doha khawatir.

“Kau sudah berkata itu entah berapa kali pagi ini, Ahjussi.” Kyuhyun tersenyum. “Beritahu eomma dan appa, aku pulang hari Sabtu.”

“Baiklah, saya akan beritahu Tuan dan Nyonya Cho.” jawab Lee Doha. “Hati-hati di jalan…, Kyuhyun.”

Kyuhyun tersenyum manis sebelum mengangguk. Ia berlalu menuju halte bus depan komplek. Di sana, ia bertemu Yoona.

“Yaa, kenapa kau membawa koper segala?” tanya Yoona.

Kyuhyun memperhatikan bawaan Yoona. Yoona hanya membawa sebuah tas punggung yang biasa ia pakai ke sekolah. “Kau hanya membawa itu? Apa saja yang kau bawa?”

Yoona menyerngit heran. “Pertanyaan itu lebih tepat dilontarkan untukmu, Cho Kyuhyun. Apa saja yang kau bawa?”

“Hanya barang-barang yang ditulis di website Hyunji.” sahut Kyuhyun agak ragu. Ia sendiri tidak memeriksa ulang barang bawaannya dan hanya mengiyakan Song Soorim yang menyiapkan barang-barangnya semalam.

“Barang-barang yang ditulis di website? Sungguh! Tidak ada hal berguna yang ditulis di sana.” sumpah Yoona. “Aku bahkan hanya membawa pakaian ganti.”

“Lalu buku pelajaranmu untuk hari ini?” tanya Kyuhyun heran karena isi tas punggungnya adalah buku pelajaran hari Kamis ini.

“Ada semua di loker sekolah. Bukankah lebih praktis?” ucap Yoona.

Bus datang, keduanya langsung naik dan karena hari masih pagi mereka tidak dapat memilih kursi. Keduanya mendapati dua kursi kosong di ujung belakang bus.

“Yoona, kau belum sarapan?” tanya Kyuhyun khawatir melihat bibir pink Yoona berubah agak peach.

“Ya, biasanya juga seperti ini saat tidak ada appa.” jawab Yoona acuh tak acuh karena sedang asik mendengarkan lagu-lagu di Special 10th Anniversary Album Super Junior; album anyar di 2015 yang menempati peringkat nomor empat di Hanteo tahun itu, Devil.

“Jangan lupa untuk sarapan nanti di sekolah.” ucap Kyuhyun yang mendapat gumaman pelan dari Yoona.

Perjalanan berlangsung sepi karena Yoona masih sibuk mendengarkan lagu Super Junior dari handphone-nya.

Don’t wake me up~ Jigeum idaero joha~ i-sigan soge neo wa nappunijanha~” senandung Yoona terhadap lagu Don’t Wake Me Up yang dibawakan oleh Super Junior D&E dan terdapat di album Devil itu terdengar.

Kyuhyun tersenyum tipis mendengar suara tipis namun merdu kepunyaan Yoona. “Your voice is not all that bad.

Shut up.” sahut Yoona seraya menyembunyikan rona pipinya yang tersipu mendengar Kyuhyun memujinya. Kyuhyun tergelak kecil mendengar sahutan singkat Yoona.

“Oh? Kau sudah membeli kacamata baru?” tanya Yoona saat menoleh dan mendapati Kyuhyun sudah memakai sepasang lensa lagi di depan kedua matanya.

“Entah, saat aku bangun pagi, sebuah kacamata sudah tergeletak di atas meja belajarku.”

~~~

Kyuhyun dan Yoona jalan berdampingan dari halte bus dekat SMA Hyunji, tapi saat Yoona melihat ketiga sahabatnya sudah menunggu dirinya di depan gerbang, gadis cantik ini langsung melesat mempercepat langkahnya. Kyuhyun yang mengerti maksud Yoona hanya menghela nafas kemudian memperlambat langkahnya.

“Hei, Im Yoona! Kali ini kau yang datang terakhir?” sapa Wendy.

“Yoona kalah, Tiffany menang.” timpal Krystal.

Yes!” sorak Tiffany yang sontak mendapat hantaman di punggungnya. “Aw!”

“Baru hari ini kau menang, Hwang Miyoung.” seru Yoona.

“Ya, ya.” sahut Tiffany meremehkan.

“Sudahlah, ayo.” ajak Krystal, kalem seperti biasanya.

Dari kejauhan, Kyuhyun tersenyum lucu memperhatikan sisi menggemaskan keempat diva. Di sana ia sempat merenung sejenak dan membuat kesimpulan.

Keempat gadis itu sebenarnya manusia biasa… Mereka hanya punya sesuatu yang harus ditutup dengan topeng. Sesuatu… yang tidak pernah dikupas oleh orang banyak. Terutama, aku penasaran dengan Im Yoona yang tidak pernah tertawa di hadapan orang banyak itu.

~~~

Jam pertama X-9 Kamis ini adalah renang. Sesampainya di kelas yang sudah masuk; karena seperti biasa keempat diva kelamaan di perjalanan menuju kelas masing-masing; Yoona dan Wendy langsung bergegas ke ruang ganti wanita.

Keduanya sigap langsung mengganti seragam mereka dengan baju renang kelas sepuluh SMA Hyunji. Baju renang lengan pendek dan berkaki pendek selutut.

Yoona mencepol rambut blondenya tinggi. Melihat pangkal rambut Yoona sudah mulai terlihat hitam, Wendy berkomentar, “Kau belum mulai mengecat ulang?”

“Apanya?” tanya Yoona heran.

“Rambutmu. Rambutmu sudah tumbuh, hitamnya mulai terlihat.” jelas Wendy.

“Aku sudah mulai bosan dengan blonde, warna apa yang menurutmu wajib kucoba?”

Ombré sepertiku?” usul Wendy. “Aku berani sumpah, ombré akan terlihat gorgeous di rambutmu.”

“Usulan warna?” tanya Yoona lagi.

“Blonde-mu yang sekarang dibikin makin pucat saja, lalu beri warna pelangi pastel di bagian bawah.”

“Idemu tidak buruk?” puji Yoona.

“Tentu.” sahut Wendy bangga. “Sebenarnya Krystal mengusulkan warna itu padaku saat kita kelas delapan, tapi aku tidak percaya diri dengan blonde sepertimu.”

“Ah, ternyata Krystal. Anak itu memang punya selera fashion yang tinggi.” ujar Yoona.

“Sangat tinggi.” ralat Wendy.

Yoona dan Wendy berjalan menuju gedung olahraga SMA Hyunji dan pergi ke lantai dua; tempat dimana kolam renang SMA Hyunji terletak. Di sana siswa-siswi X-9 sudah menunggu kedatangan Yoona dan Wendy.

“Baiklah, semuanya sudah hadir.” sapa Ryu-seonsaengnim, guru lelaki paling berotot di SMA Hyunji. “Hari ini akan ada pengambilan nilai untuk renang lima puluh meter. Tenang saja, renang kali ini tidak perlu bolak-balik, tepat lima puluh meter.”

Yoona tengah bersiap menunggu panggilan Ryu-seonsaengnim. Ia menggerutu pelan, “Sial, aku lupa jam pertamanya renang. Aku bisa mati kekosongan lambung.”

“Belum sempat sarapan?” bisikan lelaki culun yang ia kenal terdengar dari arah belakangnya.

“Kau tahu memang belum.” sahut Yoona acuh.

“Izinlah ke kamar mandi atau apa pun, lalu selinap ke kantin.” usul Kyuhyun.

“Aku tidak tahu kau selicik itu, tapi aku tidak.” balas Yoona.

“Kau bisa pingsan.”

“Bukan urusanmu.”

“Aku kan temanmu.”

Yoona terdiam. Benar, Kyuhyun sudah menjelma menjadi temannya sejak semalam. “Ya, ya. Nanti istirahat pertama aku akan sarapan.”

“Im Yoona, Kim Hyerin, Song Yura.” panggil Ryu-seonsaengnim.

Yoona berdiri dari duduknya. Wendy yang baru kelar penilaian langsung tersenyum ke arah Yoona sambil meninju tangannya ke udara. Wendy kemudian berbisik, “Hwaiting!” Yoona balas senyum tipis pada sahabatnya itu.

Yoona, Hyerin, dan Yura berdiri berdampingan di depan kolam setinggi dua setengah meter itu. “Bersedia, siap…., ya!”

BYUR

Yoona melesat.

Selain pintar dalam hal akademik, Yoona juga cemerlang dalam hal non-akademik. Tiga bidang non-akademik yang ia kuasai adalah renang, tari, dan basket.

Yoona dengan cepat mencapai jarak lima puluh meter. Paling cepat dibanding siswi lain yang menjadi lawannya–Hyerin dan Yura–dan nomor tiga dibanding seluruh siswa X-9 yang sudah pengambilan nilai.

Yoona naik dari dalam kolam. Wendy menyodorkan handuk ke arahnya, tapi wajahnya menunjukkan raut khawatir. “Apakah aboji sudah pergi? Kapan?”

Yoona mengangguk. “Kemarin.”

“Kau pasti belum sarapan, wajahmu pucat.” ujar Wendy yang tahu persis Yoona belum sarapan karena tidak ada ayahnya di rumah.

“Kalau khawatir, nanti saat istirahat pertama kau traktir aku waffle di kantin.”

“Di saat begini kau masih saja bisa memalaki orang lemah sepertiku.” gerutu Wendy.

~~~

“Wah, wah. Tumben sekali Wendy berbaik hati? Biasanya ia adalah orang terpelit sepanjang masa.” gumam Tiffany dengan nada menyindir saat tiba di kantin bersama Krystal, mendapati Wendy tengah membayar seluruh makanan Yoona.

“Aku tidak tahu Son Wendy bisa sedermawan ini.”

“Ya, ya. Pesan semau kalian.” sahut Wendy pada Tiffany dan Krystal.

“Benarkah!?” pekik Tiffany. Ia kemudian menarik lengan Krystal untuk mencari mangsa enak istirahat pertama.

Wendy mengambil duduk di hadapan Yoona yang tengah dalam perjalanan menghabiskan waffle ketiganya. “Enak?” tatapan sarkastik tertampil di wajah Wendy.

“Sangat.” jawab Yoona. “Terima kasih, Wendy-ah. Aku tidak tahu jika tanpam…”

“Stop! Aku benci mendengar kalimat menjijikkan seperti itu.” tolak Wendy keras.

“Ah Wendy-ah~ terima kasih, aku tahu tanpamu pasti aku bisa mati kelaparan…” goda Yoona.

Stop! Aku akan segera menulis daftar hutangmu padaku jika kau terus seperti ini!”

“Wendy-ah~”

“IM YOONA!”

~~~

“Kalian akan dipersilahkan pergi ke stasiun secara individualis, tapi harus dipastikan bahwa kalian sampai di stasiun sebelum pukul tiga tiga puluh karena kereta berangkat pukul empat.” ucap ketua OSIS yang adalah siswa kelas sebelas, Kim Kangin. “Mengerti?”

“Mengerti.” sahut siswa-siswi kelas sepuluh.

“Bubar, dipersilahkan.”

Tiffany, Yoona, Krystal, dan Wendy sontak langsung memisahkan diri dari barisan kelas mereka dan bergabung berempat. Keempatnya sudah mengganti baju menjadi baju kasual yang memang diterakan di website sekolah.

“Masih pukul dua, kemana kita harus pergi?” seru Tiffany excited.

Lagipula jarak stasiun Sijeong dengan berbagai pusat hiburan tidak begitu jauh, lima belas menit dengan mobil pasti sampai. Mereka hari ini akan menggunakan jasa Jung Hiro, supir pribadi Krystal.

“Kau bawa mobil yang mana, Krys?” tanya Wendy.

“CR-V. Tidak perlu mewah hari ini, kita semua bawa banyak barang.” jawab Krystal.

“Kita semua bawa banyak barang, kecuali Yoona.” ralat Tiffany.

Ternyata, sama seperti Kyuhyun, seluruh siswa-siswi kelas sepuluh SMA Hyunji membawa satu tas punggung dan sebuah koper berukuran variasi sedang sampai besar. Tak terkecuali Tiffany, Krystal, dan Wendy.

“Yaa, jangan salahkan aku karena berpikir secara efisien.” sahut Yoona.

Keempatnya masuk ke dalam CR-V silver milik Krystal. Para magnae; Krystal dan Wendy; duduk di kursi paling belakang sementara para tetua; Tiffany dan Yoona duduk di kursi tengah.

“Myeongdong?” usul Krystal.

Call!” sahut ketiga gadis lainnya.

Keempat diva melesat menuju Myeongdong, pusat perbelanjaan paling murah nan lengkap sepenjuru Korea Selatan. Jung Hiro membawa mobil dengan lihai, hanya butuh sepuluh menit dan mereka tiba di Myeongdong.

Keempatnya pergi melihat baju-baju di salah satu toko dengan merk yang cukup beken. Yoona sedang tertarik melihat short mini skirt yang akan memperlihatkan bentuk tubuhnya itu.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Yoona pada Krystal sambil menunjukkan sepotong short mini skirt merah super pendek.

“Lumayan, tapi kau tidak biasanya menggunakan skirt sependek itu.” komentar Krystal.

“Aku berpikir untuk memakainya saat prom night nanti setelah ujian kenaikan.” jelas Yoona. Ujian kenaikan akan diadakan dua bulan lagi, tepatnya bulan Mei.

“Kau gila?” pekik Krystal. “Tidak ada yang memakai short mini skirt untuk prom night!”

“Im Yoona selalu berbeda.” sahut Yoona santai. “Jika aku pakai skirt merah ini, apa warna rambut yang cocok untukku?”

“Kalau itu, tidak bisa menggunakan saranku yang tadi pagi, Yoong.” timbrung Wendy yang entah darimana datang.

“Warna apa yang kau sarankan pada Yoona?” tanya Krystal.

“Warna yang kau sarankan dulu saat kita kelas delapan, blonde pucat ombré pelangi pastel.” jelas Wendy.

“Yah, itu sih tidak mungkin cocok.” gumam Krystal. “Kalau untuk skirt itu, rambutmu lebih baik dibuat cokelat tua gelombang sepunggung.”

“Kalau mini dress ini, Krys? Apa warna rambut yang cocok?” seru Tiffany yang tiba-tiba bergabung. Ia menunjukkan pink reddish flowery mini dress tanpa lengan dan bagian bawah rok yang melebar di paha.

“Warna maroon-mu yang sekarang sudah tepat.” jawab Krystal. “Konsep apa yang ingin kalian pakai di prom night?”

Sexy yet cute.” jawab Yoona.

Just cute.” kali ini Tiffany bersuara.

“Kau, Wen?” lempar Krystal pada Wendy.

“Entah, aku ingin tampil berbeda kali ini. Apa kau ada ide untuk konsep prom night-ku?” ujar Wendy.

“Kalau menurutku, karena pahamu lebih sehat dibanding paha-tanpa-lemak Tiffany dan Yoona,” ucapan Krystal terpotong dengan lirikan tajam Tiffany dan Yoona. “Kau lebih baik pakai dress kaku tiga perempat.”

“Tiga perempat? Sebetis?” tanya Wendy yang mendapat anggukan Krystal. “Apa cocok untukku?”

“Cocok. Tapi kalau kau tidak percaya diri, kau bisa pakai dress ketat panjang lengan panjang yang bagian belakangnya sampai ke tumit sementara bagian depannya dipotong curve-line di pangkal paha.” jawab Krystal.

“Lalu aku tambahkan leggings?”

“Tepat.” puji Krystal. “Konsepmu akan menjadi sexy and chic.”

“Berbicara dengan Krystal seperti berbicara pada penggila fashion.” bisik Yoona pada Tiffany yang mengundang tawa Tiffany.

“Aku mendengarnya, Kuning.” ucap Krystal. “Oh ya, tapi jika Yoona ambil sexy yet cute, Wendy dengan sexy and chic, aku dengan chic but sweet… Kau tidak bisa ambil just cute, Tiff.”

“Benar, nanti konsep kita berempat tidak menyatu.” timpal Yoona setuju.

Tiffany mengangguk-angguk setuju. “Benar juga… Bagaimana dengan sweet and sexy?”

“Berarti kau tidak bisa menggunakan pink reddish flowery mini dress tadi.” ucap Krystal. “Aku sudah ada bayangan dengan tatanan rambut kita, tapi aku malah jadi tidak yakin dengan outfit-nya.”

“Karena ide kita terhadap pakaian dapat berubah sewaktu-waktu kita ada inspirasi baru.” tambah Wendy.

Krystal mengangguk membenarkan. “Untuk tatanan rambut… Yoona bisa mewarnai rambutnya menjadi hitam lalu di-ombré dengan blonde tua. Tiffany bisa mewarnai rambutnya hitam lalu membuatnya curly dan kemudian tinggal ditata. Wendy bisa mewarnai rambutnya menjadi coklat berponi, mudah.”

“Bagaimana denganmu sendiri?” tanya Tiffany pada Krystal.

“Aku? Belum ada ide yang pasti.”

~~~

“Harap duduk sesuai absen sehingga para guru mudah mendata.”

Kata-kata wali kelas X-9 di gerbong kereta X-9 dan X-10 itu membuat Yoona menggerutu. Sudah tidak bisa bergosip dengan Tiffany mau pun Krystal yang berbeda gerbong, kini ia juga tidak bisa membicarakan Super Junior dengan Wendy.

Absen di SMA Hyunji bisa dibilang absen acak, bukan sesuai huruf alfabet atau nilai masuk. Yoona memiliki nomor absen tujuh dan dipaksa duduk dengan si nomor absen delapan, Baek Seungho.

Wendy yang mendengar Yoona duduk bersama Baek Seungho, kembali dibuat tertawa. Saat tengah membereskan barang-barangnya, Yoona mendapat notifikasi LINE yang masuk.

Son Wendy: Karma untukmu. Sama-sama☺️💞

“Bocah sialan.” geram Yoona.

Seharusnya ia senang duduk berdua dengan lelaki paling tampan se-SMA Hyunji, tapi ia benci orang bodoh. SMA Hyunji adalah SMA ternama dan hanya siswa-siswi pemilik nilai lulusan SMP tinggi yang dapat masuk. Yoona masih tidak mengerti kenapa bisa orang seperti itu masuk ke SMA Hyunji.

Di seberang Yoona dan Baek Seungho, duduk Kyuhyun dan Song Yura; pemilik absen dua puluh tujuh dan dua puluh delapan. Kyuhyun dan Yoona sempat bertukar pandang. Kyuhyun tersenyum, ditanggapi anggukan kepala Yoona.

Wali kelas X-9 dan X-10 seperti bersahut-sahutan mengabsen siswa-siswinya masing-masing. Yoona hanya mengangkat tangannya malas saat nomor absennya dipanggil.

Saat sedang bermain handphone, tiba-tiba Yoona merasakan tubuh Baek Seungho lewat di depannya. Ia langsung membelalakkan matanya. “YA! Apa yang sedang kau lakukan?”

Baek Seungho melirik ke arah Yoona. Jarak wajah mereka menjadi sangat dekat, membuat Yoona sedikit mundur lalu menelan ludahnya. “Kau cantik sekali.”

DEG

Apa-apaan si Baek Seungho ini?

“Yaa, mundur.” perintah Yoona sambil memejamkan matanya.

“Imut.” goda Baek Seungho sebelum mencolek dagu Yoona.

“Brengsek!” umpat Yoona.

“Cantik, tolong kabulkan satu permintaanku…”

~~~

Epilogue

Kyuhyun turun dari lantai dua rumahnya menuju lantai dasar. Hari ini ia akan pergi darmawisata ke Busan dan ia sangatlah bersemangat.

“Kyuhyun, kau nanti diantar Gyeonghwan.” Ucap Lee Doha.

“Hmm,” angguk Kyuhyun acuh tak acuh sambil melahap sarapan paginya. “Eh, tidak jadi, Ahjussi! Aku akan berangkat dengan bus.”

“Lho, kenapa?” Balas Lee Doha heran. “Padahal hari ini kau bawa banyak barang.”

“Hanya sebuah koper, Ahjussi. Jangan berlebihan.” Sahut Kyuhyun. Ia berdiri dari kursinya sambil membersihkan rebelan makanan dari sisi bibirnya kemudian menyambar tas bawaannya pada hari itu.

Kyuhyun berjalan menyusuri rumahnya yang besar menuju pintu diikuti oleh langkah bingung kali Lee Doha. “Kenapa kau bersikeras untuk naik bus hari ini? Kau tahu kau tidak biasa bawa banyak barang berat…”

Kyuhyun tersenyum miring yang lalu membuat Lee Doha memutar otaknya heran, “Jika aku naik mobil, aku tidak akan bisa naik bus pagi bersama orang itu.”

.
.
.
.

TO BE CONTINUED~

Ini baru chap 4a lho :’) masih ada chap 4b~ btw ini dibagi jadi a sama b bukan karena kepanjangan.-. Karena buat epilog chap 4 itu gue ada 2 ide. Ide yang pertama ya yang udah gue tulis di atas, epilog 4a. Nah yang kedua nanti bisa dibaca di chap 4b… Kalo chap ini dijadiin 1, nanti epilognya cuma bisa ambil 1 pan :’) ide segar gue ga tersalurkan entaran.

Yasudahlah. Lanjut ketemu si chap 4b!x

Advertisements

14 thoughts on “[Chapter] She’s A Bully! 4A

  1. Huwaaa
    Oenni makasih banyak udah dilanjut
    Senangnyaaa Yoong oenni udah mulai bisa menerima kehadiran Kyu oppa
    Hemh
    Sepertinya Kyu oppa dari awal udah suka sama Yoong oenni
    Cuma agak susah mendekati Yoong oenni sampai Yoong oenni menyadari kehadiran Kyu oppa
    Ga sabar nunggu moment KyuNa yg makin romantis
    Hehehe
    Eh
    Itu temennya Yoong oenni ko jadi menyeramkan begitu???
    Duhhh
    Jangan sampe Yoong oenni kenapa2
    Semoga Kyu oppa dateng dan menolong Yoong oenni
    Dan temen mereka yg jahat itu di hukum

  2. hahahhaha emng diva 4 itu keren kyknya mrk jg baek ht…kyu udah mulai trtarik ma yoona ya……yoona ksian amat ch g ada ayahnya…tp lcu bgt ya q pkr cm kyu yg bw brng bnyak eh trnyt mlh yoona sndr yg bda…kirain yoona bkln duduk ma kyu trnyt ma baek sungho…..tp dia mnktkn..ap yg akn yoona lkukan??q brharap kyu yoona duduk bareng

  3. Awal yg bagus buat kyuhyun dan yoona. Tp di part ini kurang banyak interaksi mereka.
    Mereka berempat emang fashionista bgt ya prom night yg diada in 2bln lg aja udah dipikirin matang2 gitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s